Neptu 17, Lakune Gunung. Salah satu weton yang paling sering dibicarakan, dan pembacaannya bertabrakan dengan lapis neptunya.
detikJateng mengenal Kamis Pahing sebagai sosok ambisius yang mengutamakan kepentingan keluarga, tapi sering membuat simpulan tanpa fakta. Hamzah Batik menggambarkannya dengan empat kata: ambisius, tegas, kuat, berpengaruh.
Untuk sekali ini dua sumber bertemu. Keduanya memakai kata ambisius, dan itu jarang terjadi di daftar 35 weton.
Masalahnya muncul begitu lapis neptu ikut dibaca. Kamis Pahing berjumlah 17, dan julukan neptu 17 adalah Lakune Gunung, yang uraian sumbernya berbunyi pendiam, penurut, baik hati, hingga disebut punya sifat yang lambat.
Ambisius, tegas, dan berpengaruh tidak bisa didamaikan dengan pendiam, penurut, dan lambat. Ini bukan soal penekanan yang berbeda, melainkan dua gambaran yang saling meniadakan.
Dugaan kami, pembacaan ambisius untuk Kamis Pahing lahir dari menerjemahkan nama gunung secara harfiah sebagai kekokohan dan puncak, lalu diteruskan ke wetonnya. Kalau memang begitu, dua sumber yang tampak sepakat sebenarnya bersandar pada kekeliruan yang sama. Kami menandainya sebagai dugaan, bukan kesimpulan.
Sebuah weton adalah pertemuan hari dalam siklus tujuh dan pasaran dalam siklus lima. Primbon membaca keduanya terpisah, lalu membaca jumlahnya sebagai lapis ketiga.
Orang yang lahir hari Kamis disebut seperti api, suka dipuji tetapi karenanya jadi mudah ditipu, dan diramal punya lahir dan batin yang tidak baik.
Perhatikan bahwa gambaran api muncul di lapis hari untuk Kamis, terpisah dari julukan Lakune Geni yang ada di lapis neptu. Dua-duanya memakai api untuk hal yang berbeda.
Pasaran Pahing diuraikan sebagai suka menyendiri, tertib, suka bersih-bersih, dan hartanya sering dicuri.
Butir terakhir ganjil karena bicara tentang nasib, bukan sifat. Sumbernya tidak menerangkan hubungan keduanya.
Pendiam, penurut, baik hati, dan disebut lambat. Sumber menambahkan bahwa kebaikannya bisa berbalik merugikan diri sendiri.
Baca uraian lengkap neptu 17 →Dua kutipan di atas berlaku untuk seluruh weton yang harinya sama dan seluruh weton yang pasarannya sama, jadi teks ini juga muncul di halaman weton lain. Kami menampilkannya bukan sebagai ciri khas weton ini, melainkan sebagai bahan mentah yang ikut membentuknya. Yang khas untuk weton ini ada di bagian paling atas halaman.
Ada 1 weton lain dengan jumlah yang sama. Lapis neptunya identik dengan weton ini, sedangkan lapis hari dan lapis pasarannya berbeda.
Kamis Pahing adalah weton yang paling banyak menuntut kehati-hatian di halaman ini, justru karena versi yang beredar terdengar kompak. Kekompakan tidak selalu berarti kebenaran.
Uraian watak per weton adalah tradisi lisan yang beredar di literatur primbon populer, dan versinya berbeda antar sumber. detikJateng sendiri menutup pembahasannya dengan mengingatkan bahwa watak seseorang dibentuk banyak hal, sehingga uraian hari lahir tidak bisa dijadikan patokan utama. Halaman ini menyajikan bahan tersebut sebagai warisan budaya, bukan sebagai keterangan yang benar tentang diri seseorang.